Jumat, 19 Desember 2008

Qurban

Allah memuliakan para pequrban dengan janji-Nya yang tak pernah diingkari. Beberapa janji Allah bagi para pequrban diantaranya pengampunan dari Allah. Rasulullah SAW bersabda kepada anaknya, Fatimah, ketika beliau ingin menyembelih hewan qurban. “Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan …” (HR. Abu Dawud dan At Tirmizi).

Hewan qurban pun akan menjadi saksi pada hari kiamat, “Sesungguhnya hewan qurban itu akan dating pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan qurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir di tanah. Karena itu bahagiankan dirimu dengannya” (HR. Tirmizi, Ibnu Majah, dan Hakim).

Bahkan, Rasulullah SAW menggambarkan betapa besarnya pahala berqurban dengan salah satu sabdanya, “Pada tiap-tiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Jika Allah memuliakan para pequrban, apakah para penerima qurban tidak berhak mendapat kemuliaan? Meski hanya dari para panitia qurban. Lihatlah beberapa fakta tentang penyaluran hewan qurban di berbagai kota dan daerah di negeri ini.


1. Antrian panjang

Sebelum matahari terbit, bahkan ratusan orang rela menunggu pembagian jatah qurban sebelum sholat Ied diselenggarakan. Mereka khawatir tidak mendapatkan bagian daging qurban. Antrian panjang para calon penerima qurban itu lebih mirip parade kemiskinan bangsa ini

2. Berebut daging qurban

Sudah menjadi pemandangan yang biasa, pembagian daging qurban diiringi dengan kerusuhan, saling sikut, saling injak untuk berebut jatah daging qurban yang jumlahnya tak seberapa.

3. Penerima bukan yang benar-benar berhak

Ini juga fenomena yang terjadi di hari raya Idul Qurban setiap tahun penyelenggaraannya. Banyak yang sebenarnya tidak berhak menerima daging qurban, justru menjadi penikmat daging. Padahal, banyak kaum dhuafa (lemah) yang tak beranjak dari rumah mereka, berharap panitia qurban mengetuk pintu dan memberinya daging qurban.

4. Mubazir

Hal ini juga seringkali tidak terhindarkan. Lantaran banyak penyelenggara qurban tidak memiliki cukup data mustahik/calon penerima daging qurban.

Maka dari itu, di tahun ini Program ”QURBANKU untuk korban bencana” tak sekadar menyalurkan hewan qurban itu ke berbagai daerah bencana, baik bencana alam, konflik sosial dan bencana kemiskinan. Dalam pelaksanaannya, ACT pun meminimalisir terjadinya fakta-fakta di atas.

Program ”QURBANKU untuk korban bencana” tak sekadar menggalang qurban, kemudian mendistribusikannya ke berbagai daerah bencana. Salah satu keunggulan program ini adalah dalam hal packaging (pengemasan) daging qurban serta sistem distribusinya. Berikut sistem pelaksanaan program qurban yang dilakukan ACT di berbagai daerah;


1. Sentralisasi pemotongan di masing-masing wilayah

Area daerah bencana sangat luas, misalnya Bengkulu atau Jogjakarta. Sentralisasi pemotongan hanya di beberapa titik utama agar lebih efisien untuk menjamin distribusi lebih merata dan tepat sasaran serta memudahkan pemantauan.

2. Pemberdayaan relawan berbasis masyarakat lokal

Semua program ACT berbasis kerelawanan, begitu juga program qurban. Segenap relawan ACT, mulai dari kantor pusat di Ciputat hingga di berbagai daerah seperti Aceh, Jogjakarta, Bengkulu, Sumatera Barat, Sulawesi, Kalimantan dan lainnya serempak bekerja mulai dari penggalangan hingga pemotongan dan pendistribusian.

3. Pemberdayaan peternak

Pengadaan hewan qurban langsung dari peternak, bukan dari pedagang. Kebijakan ini sebagai bagian dari keberpihakan terhadap peternak yang selama ini sering tak mendapatkan perilaku tak adil dalam proses transaksi. Pengadaan hewan dari lokasi terdekat sehingga menghidupkan perekonomian lokal.

4. Kemasan sehat dan higienis

Pemuliaan penerima menjadi prioritas ACT selain memuliakan para pequrban. Kemasan daging qurban bukan dengan kantong plastik seperti yang biasanya dilakukan di hampir semua tempat. Kami menggunakan kemasan yang lebih bersih dan higienis, yakni bahan sterofoam yang ditutup dengan plastik cling wrap. Kemasan ini menjaga kesegaran dan kebersihan daging, dan langsung terlihat dengan jelas dari penutup transparannya.

5. Tanpa antrian dan tidak perlu berebut

Para penerima qurban cukup duduk tenang di rumah. Relawan-relawan ACT sudah mendata nama-nama penerima dan akan mendistribusikannya langsung ke rumah-rumah para penerima. Ini pun merupakan bagian dari pemuliaan penerima qurban.

6. Laporan pertanggungjawaban kepada para pequrban

Agar menambah keyakinan para pequrban, ACT memberikan laporan pelaksanaan pemotongan dan distribusi kepada setiap pequrban. Laporan tersebut berisi dua foto sebelum dan saat pemotongan, nama (atas nama) pequrban serta lokasi pemotongan.

***

Ketua MUI Jawa Timur, KH. Abdusshomad Buchori:
Kurban ke Daerah Rawan Pangan, Lebih Terasa Manfaatnya
“Penyaluran hewan qurban untuk daerah rawan pangan sangat bagus karena pendistribusian hewan qurban atau ZIS harus benar-benar tepat sasaran. Pendistribusian hewan qurban
jangan hanya terpusat di kota saja,” demikian kata Ketua Umum MUI Jatim, Abdusshomad Buchori.
Distribusi yang terarah dan terprogram, sebagaimana program yang dilaksanakan BMH yang akan menyalurkan hewan qurban ke daerah rawan pangan dan miskin, selain tersalur kepada yang sangat membutuhkan, juga akan lebih terasa manfaatnya. “Mungkin di kota orang
makan daging hal biasa. Tetapi di daerah-daerah terpencil, makan daging hal istimewa. Kalau mereka bisa menikmati daging qurban pada hari Raya Idul Adha, saya rasa manfaatkan akan lebih terasa dan mengena.”
Direktur Masjid Al Akbar ini mengatakan, seharusnya antarpengurus masjid atau lembaga
amil ada koordinasi agar dalam pendistribusian hewan qurban tidak terjadi penumpukan. Dan yang lebih utama, penerima daging qurban adalah benar-benar para mustad`afin, walaupun juga tidak salah orang-orang kaya mendapat bagian daging.
Untuk itu kampanye tentang makna kurban harus dilakukan oleh para dai dalam setiap dakwahnya, baik lewat media cetak maupun elektronik. Juga lewat khotbah Jumat maupun pada kesempatan ceramah-ceramah agama. Barangkali masih banyak umat Islam belum memahami makna maupun manfaat syariat qurban ini. Selain itu para pequrban bisa
memilih, kemana hewan qurbannya akan disalurkan.
Prof. Dr. Sjechul Hadi Permono, SH, MA
“Saya Mengirim Hewan Qurban ke Desa”
Dari tahun ke tahun penyembelihan dan penyaluran daging hewan qurban lebih tersentral di daerah perkotaan daripada daerah minus atau rawan pangan. Padahal masyarakat yang tinggal di daerah
minus rata-rata berekonomi lemah, sehingga mereka tidak saja tidak
mampu membeli hewan qurban, tetapi juga tidak mendapat penyaluran daging qurban. Sedangkan di kota, masyarakat ada yang mampu berqurban lebih dari seekor kambing, sementara
penerimanya bisa mendapat dalam jumlah berlebih.
Oleh karena itu, Prof. Dr. Sjechul Hadi Permono, SH, MA, dosen Ushul Fiqh Pascasarjana IAIN Sunan Ampel menyarankan, para aghniya yang tinggal di kota mau menyalurkan hewan qurbannya ke daerah rawan pangan, baik diantar sediri atau lewat badan amil zakat. Bahkan hal tersebut telah lama dipraktikkannya bila Idul Qurban datang. Biasanya ia mengirim hewan qurbannya ke desa asalnya, Demak.
“Sebenarnya tradisi membagikan hewan kurban ke warga miskin sudah dipraktikkan
oleh para Sahabat sejak lima belas abad yang lalu, bahkan bukan hanya kepada umat Islam, tapi juga kepada kafir Quraisy. Daging qurban juga dibagikan ke warga Badui yang ketika itu telah jauh-jauh datang,” katanya.
Kepada kaum kafir Quraisy di Makkah saat masih dipimpin Sofyan bin Umayyah, Rasulullah pernah mengirim seratus ekor unta. Dengan demikian terasa dalam dimensi sosial,
Islam amat rahmatan lila’alamin. Maka tak heran, ketika fathu Makkah (pembebasan kota Makkah), para kafir Quraisy ketika itu berbondong-bondong memeluk Islam tanpa ada konfrontasi.
No. Plat No Lyn Kontribusi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar